Kamis, 24 November 2011

Mengatasi Masalah, Tambah Masalah


Jum’at 30 September 2011, aku ada agenda rapat di tenpat kerjaku. Rapat belum dimulai, ada pasangan suami istri serta anaknya datang mengantarkan baliho yang kami pesan. Cerita punya cerita pasutri itu baru pulang dari pengadaian plus kantor polisi. Muka keduanya ditekuk-tekuk, kusut.
Ternyata mereka sedang pusing dengan kasus kehilangan surat pengadaian mereka. Mereka mengadaikan gelang emas disalah satu pengadaian di Pontianak. Dan ketika mengadukan kejadian itu, ternyata telah ada seseorang yang mencairkan dana lebih 3 juta dan mendekati 4 juta. Padahal, selama mengadaikan gelang emas itu baru sekali siempunya surat mencairkan dana. Itupun tak sampai 1 juta.
Mereka merasa tertipu. Karena KTP asli yang mengajukan gadai masih ada. Tidak ikut hilang. Pertanyaanya, mengapa pihak pengadaian bisa menyetujui pencairan dana itu? Pihak pengadaian mengatakan jika antara nasabah dan pengadaian mengedepankan azas kepercayaan. Itu salah satu alasasn pencairan bisa dilakukan. Bahkan kata kedua suami istri ini, pihak pengadaian sempat mengatakan, kalau tidak percaya tidak usah mengadaikan (menyimpan) barangnya disini. Pihak pengadaian tidak mau tahu, pengadai asli harus membayar uang sejumlah yang dicairkan oleh pengadai palsu. Tentu saja pasutri ini tidak mau dan mulai berang.
“Kita gak ada pakai uangnya kok disuruh ganti, siapa yang mau?”, katanya ketus dihadapan kami.
Mendengar itu, sebagian besar temanku menyarankan agar pasutri itu segera melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib. Hal ini dinilai sudah bisa menjadi alasan kuat untuk membuat laporan dan tututan. Dengan alasan keteledoran pihak pengadaian.
“Iya, lapor aja! Aku jak dulu mau cairkan dana punya istriku gak bisa. Harus ada yang bersangkutan langsung”. Saran satu temanku lagi yang sudah memiliki pengalaman mengadaikan barang berharganya.
Tentunya hal itu menjadi pelajaran penting bagiku. Begitu mudahnya seseorang mengecoh petugas pengadaian yang memang jelas-jelas itu pekerjaanya setiap hari. Ahli dalam bidangnya. Seharusnya urusan yang bersifat prosedural, tidaklah segampang itu untuk mengurusnya. Tapi nyatanya, sudah ada kejadian. Apa mau dikata?
Selain menjadi pelajaran begai penguna jasa pengadaian, untuk hati-hati dalam menyimpan dokumen apapun. Ini menjadi pelajaran penting juga bagi pengadaian. Tak boleh segampang itu mempercayai orang. Terlebih lembaga itu akan terus eksis jika mendapat kepercayaan nasabah.
Semuanya akan ada hikmahnya. Bahkan, ujung kuku yang patahpun harusnya memberikan pelajaran bagi kita.

Islam Minoritas di Teluk Bakung

Baru kali ini aku benar-benar berada di tengah pemukiman orang Dayak. Walaupun sebenarnya sudah sering melihat situasi seperti yang kulihat saat itu. Tapi, yang sudah-sudah hanya melintas saja. Belum pernah benar-benar berada ditengah-tengah kehidupan masyarakatnya.
Desa Teluk Bakung namanya. Dari Kota Pontianak ke Teluk Bakung butuh waktu 60 menit perjalanan jika memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Bahkan bisa lebih singkat dari itu, jika hobi balap. Tapi, jika santai bisa hingga 90 menit. Terdapat 7 dusun dibawah naungan desa itu. Cukup banyak memang. Dengan jumlah penduduk mencapai 4012 jiwa dan 884 KK, 90% penduduk setempat adalah Dayak. Selebihnya Melayu dan Cina. Melayu dan Cina memang minoritas. Begitu juga dengan agama yang mereka anut. Melayu identik dengan Islam, atau boleh dikatakan Melayu=Islam.
Sama dengan populasi etnis Melayu yang sedikit, agama Islam di desa itu juga sangat sedikit. Hanya 36 orang yang beragama Islam. Bisa ada orang Islam di Teluk Bakung, salah satunya karena terjadinya pernikahan silang (kawin campur) yang kemudian menetap di sana dan memluk agama Islam. Selain itu, ada juga karena faktor teman. Dan yang ini terjadi pada anak-anak. Anak-anak yang memluk Islam lantaran teman bermainnya Islam, dan orang tuanya masih, Memang sanggat jauh bandingannya dengan Katolik yang mencapai angka 3126. Protestan 180 jiwa. Ada 8 gereja Katolik, 5 gereja Protestan dan hanya 1 Masjid. 1 masjid itupun tak berfungsi dengan maksimal. Karena memang, 36 pemeluk agama Islam tersebar diseluruh dusun di desa Teluk Bakung. Sedangkan masjidnya hanya 1 di Lintang Batang. Menurut informasi yang Fajri alias Pak Ridho berikan, awalnya komunitas muslim di Teluk Bakung hanya mencapai 7 KK. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, jumlah itu bertambah hingga mencapai angka 36.
Jangankan pemeluk Islam dari dusun lain. Yang berada di dusun Lintang Batangpun jarang sekali meramaikan masjid yang diberinama seperti nama kaum yang ikut serta saat Rasulullah hijrah ke Mekah. Hanya saja didepannya ditambah alif lam. Kemudian menjadi Al-Muhajirin. Masjid sepi jama’ah, mungkin karena posisi masjid yang jauh dari pemukiman penduduk. Memang masjid itu berada diujung jalan aspal, ujung perkampungan Lintang Batang.
Masjid itu berdiri bersamaan dengan sebuah lembaga yang dirintis, dipersiapkan untuk menjadi sebuah pesantren nantinya. Nantinya, bangunan yang baru dirintis itu juga akan menjadi lembaga sosial. Disitu akan berlangsung berbagai aktifitas yang berhubungan langsung dengan masyarakat, Islam tentunya. Lemabaga itu diberi nama, Lembaga Pendidikan dan Sosial The Zal Hejro. Nama itu adalah bahasa Arab yang di Indonesiakan. Dan orang-orang yang berada di pesantren itulah yang meramikan masjid itu sendiri. Walaupun lagi-lagi jumlah mereka tak seberapa.
Kata Pak Fajri, salah satu penggagas dan yang memperjuangkan berdirinya masjid itu, masjid akan ramai kalau hari Jum’at. Karena tak ada masjid lain, maka shalat Jum’at terpusat di masjid itu. Setelah shalat Jum’at, kata Fajri ada kegiatan yang diikuti oleh orang-orang mualaf. Kegiatan itu semacam kajian mengenai agama Islam. Tapi, saat aku dan rombongan PSW yang sedang menyelenggarakan kegiatan Koran Ibu riset wisata Club Menulis dan Malay Corner STAIN Pontianak ada disana, kami tak menjumpai perkumpulan itu. Padahal sebenarnya, menurut informasi dari Pak Fajri hari itu salah satu agenda kami di masjid dan pesantren itu adalah bertemu dan diskusi dengan mualaf desa Teluk Bakung. Apa penyebab batalnya pertemuan itu, tak kami ketahui dengan pasti.
Salah satu sebab pendirian masjid itu adalah karena ‘kengeyelan’ dan keresahan Pak Fajri karena umat Islam yang hanya sedikit itu tak memiliki sarana ibadah. Yang lebih krusial adalah, orang-orang Islam harus mengikuti tata aturan penduduk setempat dalam hal-hal yang berkaitan dengan fardhu kifayah.
Kejadian yang benar-benar membuat dirinya (Fajri) resah adalah saat tahun 2005, ketika ada orang Islam meninggal dunia jenazhahnya harus diurus dan dimakamkan dengan tata cara non Isalm. Jika mau menggunakan tata cara Islampun tak boleh dikebumikan di Lintang Batang maupun diwilayah Teluk Bakung. Alasan penolakan itu, jika si mayit diurus dengan tata cara Islam, penduduk khawatir akan adanya pocong. Mungkin pemahaman ini muncul ada kaitannya dengan menjamurnya film-film horor produksi negeri ini, yang selalu mengambarkan hantu itu dengan sosok pocong. Akhirnya mayat itu dikebumikan dengan tata cara Islam, tapi tak diwilayah Teluk Bakung melainkan di Siantan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    
Setelah kejadian itulah, Fajri ngotot untuk mendirikan masjid di Teluk Bakung dengan dukungan beberapa rekan yang seiman dengannya. Dengan didirikannya masjid itu, diharapkan komunitas muslim akan semakin banyak karena memliki sarana untuk ibadah yang juga dijadikan sarana musyawarah. Setelah berdirinya masjid 9 September 2010 diatas tanah wakaf BKMT Provinsi tahun 2004 beserta 1 bangunan sederhana cikal bakal pesantren. Selain itu, tanah wakaf bagian belakang masjid juga akan dijadikan lokasi pemakaman muslim. Hingga nantinya orang-orang muslim yang sudah mangkat, memiliki pemakaman khusus di desa tersebut. Dan tak perlu jauh-jauh jika ingin memakamkan.
Berdiri masjid ditengah kampung yang hampir semua memeluk agama Katolik dan Protestan membuat resah penduduk Teluk Bakung. Ketegangan terjadi dan tak bisa dielakkan. Penolakan terjadi. Banyak alasan yang mereka kemukakan demi tidak berdrinya rumah ibadah orang muslim itu. Saat itu hampir terjadi pengusiran pada orang-orang muslim, ancaman juga. Dikhawatirkan pula perbedaan prinsip, cara pandang antara Islam dan Kristen akan menimbulkan gesekan. Surat penolakan juga dibuat oleh penduduk dan dilayangkan hingga tingkat Gubernur.  
Alasan penolakan itu adalah dengan adanya masjid, komunitas muslim akan berkembang di wilayah itu. Dan itu tidak diinginkan penduduk setempat, karena dikhawatirkan akan adanya persaingan agama. Pemeluk Katolik dan Protestan khawatir akan banyak pemeluk mereka berpindah agama. Selain itu pandangan-pandangan negatif akan agama Islam juga membuat suasana yang keruh itu semakin menjadi. Terlebih, pemberitaan mengenai teroris sering menghiasi media masa. Kontra dengan pendirian masjid, sejauh ini tak terjadi saat rencana pendirian pesantren didengungkan.
Dampak dari penolakan itu adalah, rencana pembangunan yang ditandai dengan penancapan tiang pertama ditunda dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Ini dilakukan untuk mendinginkan suasana yang panas mendingin kembali. Ketika tiang pertama berhasil ditancapkan, berdirilah masjid tersebut. Karena berdiri ditengah komunitas non Islam, dilihat dari dalam, masjid itu menyerupai bangunan dalam gereja.
Masjid itu masih nampak sangat anyar saat kami kesana. Disudut kanan kiri depan masjid, terdapat 2 penampungan air hujan yang berfungsi sebagai air wudhu. Tapi sejauh yang kuamati selama ada disana, air tong itu tak digunakan untuk wudhu. Karena ketika wudhu, anak-anak pesantren, Pak Ridho serta Ustad Syamsul sendiri menggunakan air kolam yang warnan airnya menyerupai teh. Air gambut. Kolam itu hanya berukuran 1,5x2 meter, dengan diberi tangga seadanya yang terbuat dari kayu bulat sebesar lengan orang dewasa. Dari tangga itulah, kemudian sebagain kaki tercelup air kolam dan disitulah mengambil air wudhu.
Air kolam itu tak hanya untuk air wudhu saja, tapi juga digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci warga pesantren. Walaupun memang letaknya agak jauh dari asrama dan wc yang wc yang sudah ada. Mememang ada 1 sumur kecil tak jauh dari asrama dan wc. Tapi kata Ustadz syamsul, airnya tidak bagus dan tidak digunakan untuk mandi.
Air dalam Bak tampungan air hujan dimanfaatkan untuk memasak anak-anak pesantren. Malah, untuk kebutuhan air minum juga. Hanya menadahkan teko dikran bak, lalau meminum air tersebut tanpa dimasak terlebih dahulu. Disamping kiri kanan dalam pintu masjid, terdapat material yang rencananya akan dibuat 2 wc. Ada semen, prselen, seng, kloset, serta paku.
Pesantren yang baru didirikan itu, dan seusia dengan usia masjid yang berdiri samping depan bangunan cikal bakal pesantren itu hanya memiliki 1 lokal dengan 3 kamar ala kadarnya. 1 kamar untuk santri putri dan santri putra 1 kamar, dan 1 kamar lagi untuk kamar pembina (ustadz). Tepat dibelakang kamar ustadz, ada bangunan tambahan yang hanya berukuran 1x2 meter untuk dapur.
Kondisi asrama serta dapurnyanya benar-benar masih apa adanya. Papan yang digunakan sebagai dinding dan lantai masih kasar, tidak tersentuh alat pengetam (penghalus) papan. Jika berbaring tanpa alas diatasnya kulit akan terasa. Tak ada lemari dalam asrama itu. Yang ada beberapa rak-rak terbuka terbuat dari papan yang menempel di dinding, serta kardus untuk tempat pakaian dan buku-buku mereka. Ada beberapa bantal, dan tak ada kasur. Yang ada, tikar pandan yang tak seberapa besarnya. Bahkan tikar itu tak menutupi semua lantai asrama yang hanya berukuran 2x2 meter itu. Kondisi dapur yang sempit itu tak jauh beda dengan kamar asramanya. Sebagian dindingnya dari papan, tapi setengahnya ditutup dengan atap daun rumbia 2 keping. Hingga sepotong diding terbuka. Pintunya hanya menggunakan seng 1 keping, yang hanya ditutup jika malam hari.
Karena diujung Lintang Batang belum mendapat bagian aliran listrik, walaupun sebagian wilayah Lintang Batang sudah terang jika malam hari maka mereka harus menggunakan disel. Karena memang letak pesantren jauh dari rumah-rumah penduduk Lintang Batang, dan berada pas diujung jalan aspal desa tersebut. Jika sudah jam 9 malam, diesel akan dimatikan dan mereka melanjutkan malam bersama lampu tempel yang terbuat dari botol atau kaleng minuman bekas. Jika malam hari, yang tidak terbiasa dengan petualangan pasti tidak akan bisa tidur dilokasi itu. Nyamuk seperti suara pesawat tempur, mendengung ditelinga dan siaga untuk berburu darah.
Sepulang sekolah 8 orang santri tersebut, langsung menuju pesantren. Mereka masak sendiri, walaupun usia mereka masih 8 hingga 13 tahun. Mereka masak dan mencuci sendiri. Paginya jarang sekali mereka sarapan. Kalau sedang ada uang (diberi pengasuh pesantren ustadz Syamsul) mereka membeli jajanan di sekolah. Uang yang ustadz samsul gunakan untuk kelangsungan hidup anak-anak dan dia di pesantren adalah hasil bantuan masyarakat maupun donatur-donatur. Kadang anak-anak mencari sayuran, dikebun orang tua mereka masing-masing. Yang kemudian mereka masak bersama-sama di pesantren.
Jam 2.30 mereka belajar membaca dan menulis Arab, setelah Magrib belajar ngaji, setelah shalat Isya hingga jam 9 mereka belajar untuk mempersiapkan pelajaran di sekolah formal esok hari. Anak-anak yang menginap di asrama tersebut, ada yang memang berasal dari keluarga muslim. Tapi ada juga anak-anak mualaf, yang orang tuanya berbeda agama dari mereka.
Pada dasarnya, hubungan antar agama di Teluk Bakung berlangsung baik, walaupun memang sejak Islam mulai mencari tempat, dan muali berani sedikit demi sedikit menunjukkan aktifitasnya, ketegangan mulai muncul. Menurut pengakuan Fajri, komunitas pemeluk Islam sebagai agama minoritas disana memilih untuk diam dan tidak terpancing dengan ketegangan itu. Bahkan orang-orang Islam lebih menjaga sikap dengan hati-hati dalam bertindak dan berucap, agar hubungan antar Islam dan agama lain di Teluk Bakung berlangsung rukun. Karena setelah terjadinya ketegangan lantaran berdirinya masjid Al-Muhajirin, situasi menjadi rentan dan begitu sensitif.
Walaupun sudah diadakan forum kajian bagi umat Islam dan mualaf di sana, tapi tetap saja hal itu tidaklah cukup. Karena ada beberapa orang yang menjadikan Islam hanya sebatas agama saja, tanpa praktek. Mungkin hal ini terkait dengan ketidak tahuan terhadap Islam itu sendiri. Dan pembinan umat Islam disana belum maksimal.
Mualaf dengan jalur pernikahanpun, terkadang hanya formalitas saat akad nikah saja, dan perayaan hari besarnya. Karena sehari-hari amalan-amalan (ibadah) serta aturan dalam agama Islam seperti tidak diindahkan. Si mualaf, tidak bisa melaksanakan perintah dalam agama Islam terkadang juga karena pasangan yang menjadi perantaranya memeluk Islam juga tidak paham dengan Islam itu sendiri. Tidak bisa shalat, bacaan-bacaan shalat, wundu dan membaca Al-Qur’an juga tidak bisa. Hal inilah yang kemudian membuat sebagain umat Islam di Teluk Bakung menjadikan agamanya sebatas identitas saja.
Faktor ketidak tahuan tadi kemudian membawa mereka (orang Islam), terus menggunakan ritual-ritual adatnya yang sebenarnya prosesi ritual adat tersebut terdapat hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam agama Islam. Herlina seorang ibu yang mualaf yang juga kader posyandu, ketika ia melahirkan anaknya, ia melakukan prosesi (upacara) dengan menggukana adat Dayak. Menurut Herlina ini terjadi karena tidak ada yang tahu bagaimana cara melaksanakan prosesi (biasa disebut selamatan) sebagai wujud syukur orang tua kepada Allah SWT, karena telah dikaruniai anak.
Hal ini terjadi, lantaran umat Islam, mualaf khususnya belum mengetahui banyak hal dengan agama yang dianutnya. Terlebih jika kondisinya, kuantitas mereka masih dalam jumlah yang sedikit. Selain itu, mualaf yang pada berasal dari keluarga Dayak tidak bisa otomatis lepas dari adat. Pak Fajri sendiri saat menikah masih menggunakan prosesi adat Dayak. Dan ini tidak bisa dielakkan. Karena memang hanya dia yang beragama Islam di keluarganya. Terlebih ayahnya menjadi Nyirum Oreng sebagai ketua adat Dayak, yang berpegang teguh pada ritual-ritual adat. Tak hanya menjadi ketua adat Dayak, Pak Oreng juga menjadi ketua sanggar seni tari dan musik.



In Memoriam 97


Masih lekat dalam ingatanku, betapa mencekamnya suasana kampungku tahun 97 dulu. Padahal tragedi itu, tak benar-benar terjadi di kampungku. Tapi terjadi di kampung sebelah yang jaraknya kurang lebih 3 km. Di kampung Sidorejo namanya. Saat itu aku duduk di bangku kelas 4 SD, dan usiaku baru 10 tahun. Tapi, suasana mencekam itu masih tergambar jelas dalam benakku.
Tragedi 97, siapa yang tak mendengarnya. Orang di kampung pelosokpun, tahu akan tragedi itu. Walaupun mungkin mereka tak menyebutnya dengan sebutan tragedi 97. Perang antar suku itu memang benar-benar dahsyat. Banyak memakan korban. Bahkan dampaknya masih terasa hingga kini. Dan hingga detik ini, orang-orang Madura belum berani menginjakkan kaki kembali ke kampung halamannya, awal merintis kehidupan di Sambas. Mereka was-was.
Dikampungku, memang bukan pemukiman orang-orang Madura. Hanya ada 1 keluarga saja. Suaminya Madura, istrinya Jawa dan dari pernikahan mereka, dikaruniai 1 anak. 1 keluarga yang memiliki darah Madura di kampungku, kebingungan mau ke mana. Dia memilih melarikan diri ke dalam hutan belantara dengan membawa serta anaknya. Istrinya tidak ikut dalam pelarian itu.
Di dalam hutan ayah dan anaknya itu bertahan hidup dengan bekal seadanya. Hampir seminggu mereka bersembunyi di hutan. Hampir sepekan, suasana yang benar-benar mencekam itu merundung kampungku. Aku dengarkan cerita dan kabar dari orang-orang akan tragedi itu dengan perasaan khawatir dan kasihan.
Aku khawatir jika sampai orang-orang ‘mangkok merah’ membabi buta dan menyerang tanpa pandang suku, dan kami juga terkena imbasnya. Padahal sasaran mereka datang ke kampung kami adalah, hendak menyeterilkan kampung kami dari orang-orang bersenjata celurit. Walau sebenarnya mereka tidak terlibat dalam kemelut itu. Hanya saja, mereka satu suku. Satu yang makan nangka, semua terkena getahnya.
“Waspada..! Mangkok merah sudah di kirim ke perkampungan Madura,” kata orang-orang kampungku menyebarkan kabar itu, agar kami waspada. Pejabat-pejabat kampungku, kepala dusun, RT dan dan jajarannya berkeliling kampung memberikan peringatan agar kami terus waspada. Sembari memngabarkan hal itu, mereka membagikan kain merah yang lebarnya hanya 3 jari dan panjangnya 30 cm. Kain itu harus kami pasang diatas pintu bagian luar. Konon katanya, kain itu sebagai identitas bahwa kami bukan sasaran mereka. Makanya kain itu harus dipasang di atas pintu. Tak ada yang boleh berkeliaran di luar rumah. Bapak-bapak tak boleh meninggalkan anak istrinya di rumah. Karena katanya orang-orang mangkok merah bisa datang kapan saja.
Aktifitas di kampungku lumpuh. Kami hanya melakukan rutinitas luar rumah yang benar-benar tak bisa ditinggalkan saja. Mencari rumput untuk ternak misalnya. Selebihnya, kami lebih banyak berada di rumah. Sekolah diliburkan 1 minggu. Baru ada SD di kampungku.
Kami tak bisa berbuat apa-apa melihat orang-orang Madura kalut mencari perlindungan. Kami tak bisa berbuat apa-apa, karena kalau kami memberikan tumpangan kepada mereka untuk bersembunyi, nyawa taruhannya. Kami tak berani bermain-main dengan nyawa.
Ada 1 keluarga Madura yang benar-benar akrab dengan kami. Keluarga Pak Mudi namanya. Dia teman baik ayah dan ibuku. Banyak aktifitas yang sudah mereka lakukan bersama-sama. Saat kondisi sedang kalut, tiba-tiba Pak Mudi datang ke rumah. Berniat meminjam sepeda motor King ayahku. Dia tak punya kendaraan untuk membawa istri, anak dan mertuanya mengungsi. Sedangkan istrinya sedang hamil tua dan tinggal menunggu hari kelahiran anak pertamanya.
Ayahku tak tega melihat temannya kalut. Dipinjamkannya kendaraan satu-satunya milik kami itu. walaupun sebenarnya ayah sangat sadar, kemungkinan besar, motor pertama yang dimilikinya tidak akan kembali lagi dengan kondisi yang sudah kacau begitu. Kata ayah, kalau memang kendaraan roda 2 itu tak kembali, artinya itu bukan rezekinya lagi. Hampir 3 hari, tak ada kabar berita dari teman ayah yang meminjam motor itu. Tapi menjelang hari keempat, setelah urusan Pak Mudi selesai, dia mengembalikan motor itu. Saat itu juga dia berpamitan kepada kami untuk mengungsi.
Ke mana tujuan rombongan pengungsi itu. Aku juga tak tahu. Entah jalur mana yang mereka lalui. Darat ataupun sungai. Memilih jalur darat, trak yang mengangkut mereka akan melewati perkampungan Dayak. Dengan motor airpun sama. Sepanjang pesisir sungai, dihuni orang Melayu yang sudah bekerja sama dengan orang-orang Dayak. Walaupun tak semua orang Melayu ikut-ikutan.
Aku paham mengapa mereka bekerja sama. Karena kalau mereka menolak ajakan kerja sama, maka mereka harus mempertaruhkan nyawa. Sedangkan yang mengetahui seluk beluk kampung kami adalah penduduk Melayu Sambas sebagai penduduk pribumi (asli), yang kehidupannya hingga kini jauh tertinggal dibanding kami yang tinggal di kawasan transmigrasi.
Hingga malam harinya, orang-orang mangkok merah belum sampai ke kampung kami maupun kampung sebelah. Katanya mereka sedang ‘membereskan’ orang Madura di blok C, sedangkan kami di blok A. Tapi jarak antara 1 blok dan blok lainnya sekitar 1, 2 hingga 3 km. Saat itulah dimanfaatkan orang Madura kampung sebelah untuk mengamankan barang-barang berharga miliknya, sebelum mereka tinggal untuk mengungsi bersama rombongan lainnya.
Menjelang subuh, mereka menemukan pemukiman orang Madura. Rumah-rumah yang sudah tak berpenghuni itu diobrak-abrik tanpa ampun. Mereka dobrak pintu yang terkunci untuk mencari penghuni rumah. Tak menemukan penghuni rumah, mereka lantas membakar rumah-rumah yang terletak di 1 RT itu satu persatu. melihat rumah sudah kosong tak berpenhuni dan barang-barang juga kosong, mereka mencari-cari hingga ke kebun orang-orang Madura. Katanya, barang-barang yang sudah disembunyikan di perkarangan belakang rumah (kebun belakang rumahpun), dapat ditemukan dan kemudian dimusnahkan.
Tak hanya itu, barang yang dititipkan ke tetangga suku Jawapun bisa terdeteksi dan kemudian ikut dimusnahkan juga. Katanya mereka bisa mendeteksinya karena ada aroma khas orang-orang Madura. Begitu juga barang-barangnya, aroma sapi katanya. Mungkin karena orang-orang Madura menyukai binatang itu, banyak memelihara. Tapi sebenarnya jika itu alasannya, kami orang-orang Jawa juga memelihara sapi. Rasanya tak ada aroma itu tercium, atau butuh ilmu khusus untuk mengendusnya. Entahlah aku sendiri tak tahu, benar atau tidak akan hal itu.
Ada 1 rumah yang baru selesai dibangun. Belum genap 3 bulan saat tragedi itu terjadi. Penghuni rumah sudah mengungsi, barang-barang berharga juga sudah di amankan. Tapi tidak dengan kitab suci Al-Qur’an dan peralatan shalatnya. Kata orang-orang yang menyaksikannya, berkali-kali rumah itu hendak di bakar, tapi tak berhasil. Kemudian orang-orang Dayak memeriksa isi rumah. Kosong, tak ada penghuni dan barang-barang seadanya serta Al-Qur’an dan peralatan shalat yang sengaja tak dikeluarkan. Entah apa tujuannya. Tapi setelah Al-Qur’an dan peralatan shalat dikeluarkan, barulah rumah itu bisa dibakar. Mungkin siempunya rumah dulunya taat beragama.
Pagi harinya, asap tebal mengepul dari kampung sebelah. Rumah-rumah yang ditinggal lari itu musnah dibakar tanpa ada yang bisa dan berani mencegahnya. Seingatku, saat itu terjadi tak ada aparat yang sampai ke kampung kami. Memang kampung kmi jauh dari jangkauan aparat. Dari pusat kota Sambas, untuk sampai ke kampung kami, butuh waktu 4 hingga 5 jam jalur air dengan motor klotok. Sedangkan dengan jalur darat, butuh 3 jam, dan paling lama 4,5 jam. Tapi jalur darat, jalannya hancur. Diperbaikipun akan hancur lagi. Karena jalan itu dilewati buldoser, truk-truk perusahaan sawit yang sudah menjamur sejak dulu.
Saat kampung sebelah membara, 1 keluarga Madura di kampungku tak ikut dalam rombongan pengungsi. Dia memilih melarikan diri ke hutan dengan membawa anaknya. Hanya tinggal istrinya di rumah.  
Pagi harinya suasana kampung menjadi hening, seiring dengan padamnya api yang masih menyisakan kepulan asap hitam yang nampak hingga kampung kami. Rumah saudara-saudara kami yang sebenarnya tak tahu menahu akan permasalahan yang memicu pertikaian antara suku itu ludes tak bersisa. Pagi harinya, aku dan teman-temanku mulai ke sekolah. Ada 1 orang tua yang mengantarkan kami. Kami tak jalan sendiri-sendiri seperti hari-hari sebelum kejadian itu. Pagi itu, hampir seluruh orang tua menyarankan agar kami berjalan bersama dan bergandengan.
Saat tiba di kampung sebelah, kami ketakutan, ingin berlari sekencang-kencangnya agar cepat sampai ke sekolah saat kami berpapasan dengan rombongan orang Dayak Melayu yang mukanya coreng moreng tak jelas. Entah mukanya diolesi dengan apa, yang pasti muka mereka tak karuan semua bentuknya. Tapi, kami tak bisa lari karena pesan orang tua kami, tak boleh lari atau teriak ketika berpapasan dengan orang-orang itu. Terus berjalan bergandengan tanpa menghiraukan mereka.
Sampai di sekolah, kami bukannya belajar. Karena sekolah sepi. Tak banyak siswa yang masuk, begitu juga dengan gurunya. Bahkan kepala sekolah dan istrinya yang juga guru absen hari itu. Kepala sekolah dan istrinya absen, karena di rumahnyalah rombongan ‘mangkok merah’ berhenti, istirahat setelah beraksi.
Mereka menjarah (mengambil dan memakan tanpa membayar) makanan di warung milik warga yang berada di seberang rumah kepala sekolah. Pemilik warung hanya bisa melihat aksi itu. Tak bisa berbuat apa-apa, isi warung mereka diambil tanpa ada rupiah yang diterimanya.
Kami yang sekolah hanya datang dan duduk di kelas. Tak ada kegiatan belajar mengajar. Kami menceritakan pengalaman kami masing-masing saat melihat tragedi mengerikan itu. tak lama kami di sekolah, lalu pulang. Ketika pulang, kami tak berombongan lagi. Walaupun tak pulang sendiri. Masih bersama 2 hingga 3 orang teman. Saat aku baru keluar area sekolah dan menuruni tanjakan berbatu, aku melihat laki-laki berambut panjang, telinganya lebar dengan mandau yang diikatkan di pinggul sebelah kirinya. Tak ada senyum di mukanya. Itu yang membuat kami takut. Dalam benakku dulu, ini pasti orang Dayak.
Yang kudengar, yang kulihat dari televisi, orang-orang Dayak memiliki ciri telinga panjang. Senjata yang dibawanya, membuatku ingat dengan pelajaran sejarah jika mandau adalah senjata orang Dayak. Tapi mungkin dia orang Dayak moderen. Karena bajunya lengkap, tak telanjang dada dan dia juga memakai sepatu. Dari beberapa tayangan televisi yang menampilkan orang Dayak yang berada di pedalaman, mereka tidak mengenakan baju lengkap. Jikapun menggenakan baju, bahan dasar bajunya itu terbuat dari hasil alam langsung. Ada baju yang terbuat dari kulit kayu, dedaunan dan lain sebagainya. Ada juga yang hanya memakai koteka saja. Setelah orang itu lewat, kami langsung berlari sekencang-kencangnya hingga tiba di rumah.
Hingga beberapa minggu setelah hebohnya penyerangan Dayak ke kampung sebelah, kejadian itu menjadi topik hangat di kampungku. Banyak yang mengenang kampung Sidorejo saat masih ada mereka saudara-saudara kami suku Madura. Kini satu blok (RT) mereka sunyi hanya menyisakan puing-puing dengan abu yang beterbangan tertiup angin. Seakan abu rumah yang ludes itu terbang mencari pemiliknya. Entah ke mana mereka mengungsi. Kudengar-dengar dulu mereka dibawa ke Tebang Kacang. Tapi pastinya aku tak tahu.
Setelah kejadian itu, tak ada satupun dari mereka yang muncul ke kampung halaman tempat mereka merintis kehidupan dulu. Tempat yang menjadi saksi keuletan mereka, yang membuat kehidupan mereka sedikit demi sedikit membaik. Mereka mengolah tanah, mereka memelihara sapi, dan kotoran sapi mereka gunakan sebagai pupuk tanaman mereka. Jika pertanian sedang tak bisa diandalkan, mereka akan kerja serabutan.
Mereka menanam sayur, ubi, jagung, padi, lada juga. Ada juga yang menanam karet, untuk disadap getahnya. Mereka juga sempat menikmati hasil jerih payah mereka saat harga lada melambung hingga Rp. 100.000 per kilo gramnya. Selain itu, hasil ternak sapi yang selain berfungsi sebagai sumber pupuk kadang, juga mereka jual. Tak hanya 1 sapi yang mereka ternakkan. Dari situ pulalah mereka bisa membangung rumah, memiliki kendaraan dan perabotan. Keuletan mereka juga nampak dari rumah-rumah mereka, yang mentereng. Rata-rata rumah mereka sudah direnovasi atau dibangun.
Seingatku, mereka tak pernah terlibat cek-cok dengan sesama atau suku lain di kampung kami. Ada yang dari Banjar, Jawa Tengah, Kebumen, Jawa Barat juga. Jikapun pernah, mereka mampu mengatasinya secara kekeluargaan dan tak sampai meluas. Tak ada catatan hitam tentang mereka selama tinggal berdampingan bersama kami. Tapi, nasib berkata lain. Walaupun mereka pada dasarnya baik.













Rabu, 23 November 2011

Bensin atau Air?


Pertengahan September lalu, aku pergi ke salah satu bengkel resmi Honda di Jalan Gajah Mada Pontianak. Setelah pulang kampung lebaran, motor minta perawatan. Saat menunggu giliran motorku ditangani, ada motor salah satu pelangan bengkel yang mendapat giliran terlebih dahulu.
Seperti biasa, mekanik mengecek satu persatu kondisi kelengkapan motor. Stater, klakson, lampu sen dan lain sebagainya. Mekanik bertubuh ringkih yang sudah mulai bongkok, dengan rambut kepala memutih dan sulah dibagian jidatnya memulai tugasnya. Dipencet-pencetnya stater motor Revo biru keluaran tahun 2000an itu. Tak mau hidup. Dicobanya menggunakan stater kaki. Tak juga mau hidup.
Mungkin mekanik itu mengira tangki bensinnya kosong. Dibukanya tangki, kemudian digoyang-goyangnya motor. Untuk memastikan berisi atau tidak tangki itu. mengoyang-goyang motor, membantu untuk pengecekan kondisi bensin yang berada dalam tangki yang gelap itu.
Mekanik itu mulai heran dengan fakta yang ditemukannaya. Tangki berisi, tapi motor di stater tak ada ntanda-tanda kehidupan. Diceknya busi motor itu. Kemudian dicobanya lagi, tetap tak mau hidup.
Saat si mekanik mulai mengalirkan bensin dari selang yang tersambung dari tangki motor, dan dengan bensin itu yang akan digunakannya untuk membersihkan bagian-bagian motor. Dia kembali terkejut. Dan berkali-kali mengecek dan meyakinkan asumsinya. Dipanggilnya si pemilik motor.
“Bang, ini bukan bensin. Coba tengok! Air”, kata sang mekanik sambil menadahkan tangannya pada selang bensin yang mengalir deras diatas tempat bulat berbahan stainlis, mirip bejana yang dipakai dokter saat melakukan tindakan oprasi di rumah sakit.
“Iye ke Pak?”, tanya pemilik motor dengan wicara khas Madura dan nada agak tinggi karena terkejut dan nampak kesal dengan kondisi itu. Setelah mengecek sendiri, pemilik motor kemudian menelfon seseorang.
“Halo kak. Tadi kakak ngisi bensin dimane? Aek semue tu”, jelas sekali gurat kekesalan di wajahnya.
Wajar saja kalau abang itu kesal dengan kejadian itu. Yang pertama, dia pasti merasa tertipu penjual bensin di kios tempatnya membeli bahan bakar premium itu. Kedua, dengan hal itu, pastilah akan memberikan dampak negatif pada mesin kendaraan roda duanya.
Ternyata praktek-praktek penjual bensin curang masih berlangsung hingga kini. Sebenarnya praktek ini sudah sejak dulu dijumpai. Harusnya, kehadiran penjual eceran mampu memberi solusi bagi pengendara motor maupun mobil yang tidak memiliki waktu banyak untuk mengantre di pom bensin.
Tapi nyatanya? Malah penjual menjadi petaka bagi pembeli. Padahal penjual tidak akan mendapat rupiah kalau tak ada pembeli. Tapi, kadang demi mendapat keuntungan lebih dengan cara mudah, hal-hal serupa sering dipraktekkan oleh banyak pembisnis.