Senin, 01 Oktober 2012

Saat Uang Bapak Tak Banyak Lagi

Ditulis: Ambaryani
Aku berlari menuju kamar teman kosku. Aku duduk bersila dihadapannya sambil menangis sesegukan. Mataku sudah membengkak. Temanku nampak heran melihatku. Dia hanya diam dengan kebingungannya. Dia membiarkanku menangis dihadapannya. Setelah hujan air mataku mereda, aku memulai pembicaraan.
“Ce, aku sedih...,” kataku dengan suara tersendat.
“Ada apa, sampai begini?”
“Hiks, hiks...,” air mataku kembali mengalir deras.
Temanku kembali terdiam sambil menepuk-nepuk punggungku saat aku kembali menangis.  Tak tahan rasanya mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Hari itu, aku mendapat sms dari Bapakku, yang menyuruhku mengunjunginya ke rumah Omku yang tinggal di HM. Swignyo. Tiap bulan orang tuaku mengirimkan beras dan uang jatah bulanan. Kalau tidak Bapak membawanya langsung ke Pontianak, Bapak biasanya menggunakan jasa bis.
Aku menangis karena hari itu, Bapak hanya memberiku sekarung beras 15 Kg dan uang Rp. 400.000. Uang itu jatah sebulan, yang akan kugunakan untuk membayar kos Rp. 200.000 dan sisanya untuk keperluan makan, bensin motor, pulsa, tugas-tugas kuliahku, dan keperluan lainnya.
Biasanya Bapak memberiku jatah Rp. 500.000 perbulan. Uang segitupun, jauh dari kata cukup. Aku sudah sangat menghemat. Aku juga menekan dalam-dalam keinginannku memiliki barang ini itu seperti yang dimiliki teman-temanku. Meskipun demikian, aku masih gali lobang, tutup lobang. Persediaan uangku akan menipis, ketika baru 15 hari berlalau. 15 hari mendatang, aku meminjam uang teman-teman terdekatku. Terlebih untuk keperluan tugasku yang tak bisa di tolerir. Begitu yang kulakukan selama ini.
Urusan makan sehari-hari, jangan ditanya. Aku benar-benar menerikkan ikat pinggang. Bahkan seminggu penghujung bulan, aku hanya bisa membuat sambal goreng tempe dan kacang yang kukira murah dan awet. Aku bisa sedikit mengirit. Kalau benar-benar sudah tidak ada uang ditangan, aku hanya membuat bubur nasi, yang kukasi garam dan kutaburi bawang goreng. Bahkan ada satu waktu aku hanya makan sekali dalam sehari.
Dengan jatah normal saja, aku sudah mati-matian dalam penggunaan uang. Apa lagi dikurangi Rp. 100.000. Aku sedih membayangkannya. Aku juga berpikir, kepada siapa lagi aku harus meminjam uang. Aku sudah menebalkan muka tiap bulan meminjam uang pada keempat teman dekatku di kampus.    
Orang tuaku petani. Bapak dulu bekerja di PT sawit di kampungku. Rasanya saat Bapak bekerja di PT dulu, banyak uangnya. Aku masih kecil dulu, tapi aku masih ingat betul akan hal itu. Selain bekerja di PT, Bapak juga membuka toko dan service elektronik di barak pekerja. Dan hasilnya, bisa dikatakan lebih dari cukup. Dulu, Bapak mampu membeli mobil exstrada.
Aku tak tau pasti mengapa Bapak tak lagi bekerja di PT. Dan setelah tak lagi menjadi karyawan PT, Bapak juga tak lagi membuka service elektornik. Kata Bapak, banyak singan. Kemudian, orang tuaku, membuka warung sembako di rumah. lumayan besar warungnya. Tapi, warung itupun tak ada lagi sekarang.
Bapak menanam sawit sendiri, dan mengandalkan karet (noreh). Tapi, lama kelamaan itu tak bisa menjadi andalan sumber ekonomi. Mobil yang kami punya dulu, akhirnya di jual karena Bapak rasa, dulu kami belum benar-benar membutuhkan mobil itu. Bapak kemudian nyopir truk barang milik omku yang domisili di Pontianak. Om Gio namanya.
Omku yang satu ini, terhitung sukses hidupnya. Dia sudah memiliki rumah di Pontianak, beberapa mobil truk dan membuka rumah kos. Dulu waktu aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah, Bapak sempat berniat agar aku kos di rumah Om Gio. Tapi, setelah kubanding-bandingkan dengan baya perbulan di kos lain, Om Gio mematok harga tinggi. Meskipun dia Omku, tapi aku diperlakukan sama dengan calon penghuni kos lainnya. Dan aku tak setuju dengan ide Bapak, dan aku mendapatkan tempat kos yang lain yang lebih nyaman dan sewa perbulannya terjangkau.
Saat uang Bapak lebih, dia tak terpikir untuk menabungnya. Tak terpikir, jika aku dan adik-adikku ingin sekolah tinggi-tinggi. Tak ada perencanaan. Uang yang lebih dulu, habis begitu saja. Dan sekarang, kami rasakan akibatnya.
Dulu aku hanya kuliah D2 PGSD. Setelah wisuda, aku sempat ngangur 1 tahun dan pulang kampung. Saat ngangur, aku berjualan es di rumah. Aku membuka warung kecil-kecilan. Aku juga noreh, ikut memanen sawit. Membantu orang tua dikebun, sudah biasa kulakukan sejak aku kecil dulu. Bahkan saat almarhumah nenekku masih hidup, aku dan nenek memanen cangkok manis yang kami tanam di kebun. Kemudian aku dan nenek menjajakkannya keliling kampung dengan jarai[1] yang digendong nenek. Setelah 1 tahun, aku ingin melanjutkan kuliahku, S1.
Aku sampaikan keinginannku pada orang tuaku. Pada Bapak terutama. Bapak tentu tak setuju. Terlebih dengan kondisi perekonomian kami yang jauh berubah dibanding dulu. Tapi aku tetap kekeh ingin melanjutkan kuliah.
Bahkan untuk mempengaruhi ketidak setujuan Bapak, aku berjanji akan kuliah sambil bekerja. Bapak memikirkan janjiku. Dan akhirnya menyetujui keinginanku, walaupun sebenarnya Bapak masih merasa keberatan. Aku lega. Walaupun belum terpikir akan bekerja apa saat sudah lanjut kuliah nanti.  
Hingga hampir 1 tahun aku kuliah, aku belum juga mendapatkan pekerjaan. Ijazah D2, kujadikan modal melamar kerjaan. Lebih 10 lamaran kumasukkan ke SD2 negeri maupun swasta. Tak hanya itu, aku juga memasukkan lamaran pekerjaan ke cafe-cafe juga kantin. Kupikir, pekerjaan asalkan halal akan kulakoni. Ini sudah janjiku. Janjiku pada Bapak yang harus kutepati.
Hampir bosan aku menulis lamaran dan mengantarkannya. Tapi, tak satupun yang berhasil. Setelah hampir bosan menunggu dan memutar otak, pekerjaan apa lagi yang harus kucari, ada panggilan dari kantin dan konter penjualan minyak wangi isi ulang. Pikirku, aku bisa pekerja pagi hingga siang. Karena aku masuk kuliah jam 1 siang.
Aku dipanggil dan diwawancara. Saat wawancara aku ditanya mahasiswa atau bukan? Kujawab jujur pertanyaan itu. Ternyata kejujuranku, tidak membuahkan hasil kali ini. Pemilik usaha, tak mau menerima aryawan yang sambil kuliah.
Aku juga mengajak Cece temanku untuk keliling kota Pontianak, mencari lowongan kerja. Belum juga berhasil. Hingga suatu pagi, saat aku baru saja libur akhir semester, aku putar-putar kota Pontianak dengan motor Vega hijauku. Aku tak sengaja, lewat Mall Matahari Pontianak. Pas didepannya terdapat rumah makan Seafood 88. Tertera LOWONGAN KERJA.
Aku yang memang sedang mencari-cari pekerjaan tentu saja girang bukan kepalang membaca tulisan itu. Awalnya aku ragu masuk ke restoran itu. Tapi, ini kesempatan yang selama ini kucari. Aku masuk dan menanyakannya. Tanpa berpikir, akan ditempatkan diposisi apa aku di restoran itu.
“Ada lowongan kerja ya?,” kataku dengan nada grogi yang mungkin terdengar oleh lawan bicaraku di restoran itu.
“Iya, ada,” jawab pelayan restoran. Kemudian dia mempertemukan aku dengan pemilik restoran.
Agak lama aku berbincang dengan si bos. Dia bertanya akan statusku. Kujawab, mahasiswa. Awalnya dia tak mau menerimaku menjadi karyawannya. Alasannya, tak boleh kerja paruh waktu, dan karyawannya harus tinggal dirumahnya, karena memang restoran itu dibuka didepan rumah bos. Dia malah memintaku untuk tidak kuliah lagi, hanya bekerja. Tentu saja itu kutolak. Dan kujelaskan, aku akan bekerja penuh dan memenuhi syaratnya karena aku sedang libur 3 bulan. Bosku juga setuju.
3 bulan aku bekerja menjadi pelayan restoran plus pembantu rumah tangga bos. Memang gajinya tak sebanding dengan pekerjaan yang kulakukan. Tapi, itu cukup membantu kodisi keuanganku. Aku tak memberitahu orang tuaku, perihal pekerjaan itu.
Setelah kuliah aktif kembali, akupun berhenti bekerja. Sejak berhenti, aku kembali ke kos lamaku. Aku sudah membicarakan hal itu sebelumnya pada ibu kos. Setelah berhenti, aku kembali mencari-cari pekerjaan.
Lamaran yang kukirim ke sekolah-sekolah, tak ada yang goal. Sedih sebenarnya. Ijazah D2ku, ternyata belum bisa menjadi modal kuat untuk mendapatkan pekerjaan. Akhir 2008, aku ikut seleksi CPNS. Tapi, aku gagal. Aku sanggat berharap namaku tertera di media cetak yang yang memuat pengumuman itu. Hasilnya nihil, dan aku pulang. Hilang semangatku saat itu. Lagi-lagi aku menangis dihadapan Cei. Aku kembali kebingungan mengatur jatah uang yang tak seberapa.
Teman-teman kosku, tahu persis akan keadaanku itu. Terlebih Cei. Aku lebih terbuka dengannya, bahkan hingga masalah keuanganku. Dia juga mengerti itu. Suatu hari saat dia melihatku hanya membuat bubur, dia tanggap akan kondisiku.
“Kalau tak ada beras atau apa, bilang! Jangan diam-diam. Kalau aku ada, pakai dulu. Kalau ada waktunya kau yang ada, saling bantu kita,” kata Cei mengesalkan karena aku tak terbuka dengannya saat itu.
Aku hanya menjawab ‘Iya’. Cei pasti tahu, kalau sebenarnya aku malu terlalu sering pinjam sana-sini.  
Arin teman kosku yang lain ternyata mencarikanku pekerjaan. Dia prihatin melihat kondisiku. Dia juga tahu, aku mau melakukan pekerjaan apapun asal halal. Koko bos Arin sedang membutuhkan pembantu rumah tangga, dan dia menawarkanku pada bosnya.
Akupun kembali menjadi pembantu sambil kuliah. Tak hanya itu, aku juga menjadi buruh cuci setrika setiap hari minggu. Awal menjadi pembantu Koko, aku hanya meerima Rp. 10.000 per hari. Setelah beberapa bulan, kemudian Koko menaikkan gajiku Rp. 15.000. Aku digaji berdasarkan absen. Semakin rajin aku kerja, semakin banyak gaji yang kuterima.
Subuh jam 4.30, saat orang lain masih terlelap, aku sudah mulai bekerja. Jam 6, pekerjaanku sudah beres. Begitu kujalani dari akhir 2009. Dan itu membantuku. Hampir bersamaan dengan aku menjadi pembantu, ada lagi pembukaan CPNS di akhir tahun 2009.
Aku mencoba lagi. Aku tak berani terlalu berharap lagi. Jika aku lulus, itu memang sudah waktunya. Kalaupun tidak, kumencoba lapang dada. Walaupun tak kupungkiri akan ada kecewa. Aku lebih siap saat itu, jikapun aku tak lulus.
Puji Tuhan, saat mencoba lagi, keberhasilan berpihak padaku. Aku ingin melompat tinggi-tinggi. Memekik sekeras-kerasnya. Aku ingin semua orang tahu, aku bahagia. Orang tuaku, merasakan kebahgiaan itu juga. Kata Bapak, memang itu yang Bapak tunggu.
Cita-citaku menjadi guru di kota kini terwujud. Sebelumnya, banyak yang menawarkan padaku untuk mengajar di kampungku. Tapi, aku menolak.
Sebenarnya, guru bukan cita-citaku. Aku suka sesuatu yang berbau khayalan. Tapi, dulu saat aku SMA, tak ada pandangan akan hal itu. Yang kutahu, kuliah adanya jurusan guru. Pengetahuanku akan hal itu memang terbatas dulu.
Penghasilanku menjadi CPNS dengan golongan IIB, tak bisa kuandalkan sepenuhnya. Apa lagi, setelah aku lulus CPNS, orang tuaku benar-benar cuci tangan dengan semua urusan keuangan. Bahkan hingga urusan kuliah. Gaji yang tak seberapa itu, harus cukup untuk membayar kos, kridit motor, kebutuhan hari-hariku, dan aku juga harus menabung untuk membayar uang daftar ualng setiap semester.
Akupun memutuskan untuk melanjutkan profesiku, menjadi pembantu di rumah Koko. Biarlah orang bilang apa. Persetan dengan gengsi. Gengsi tak bisa memenuhi kebutuhan hidupku.
Bahkan tetangga Koko yang sudah mengenalku, agak heran jika melihatku ke rumah Koko dengan baju dinas. Mungkin mereka heran melihat, pegawai tapi masih saja menjadi pembantu.
Dengan gaji pembantu itu, aku punya uang sedikit lebih. Yang bisa kugunakan untuk menganti bajuku yang sudah memudar warnnanya, yang sudah merapuh rajutan benangnya. Menganti sepatu ngajarku yang hanya itu-itu saja, memiliki beberapa gaun untuk ke sembayang Minggu.
Tuhan memberikan berkatnya padaku. Tuhan begitu sayang padaku. Dia memang menguji kesabaranku. Menempa keikhlasanku. Tuhan memberiku banyak berkat dari sudut yang tak kuduga. Dari tangan yang tak pernah kusangka akan menjadi jalan rezki-Nya turun padaku. Puji Tuhan.
Hari Minggu. Hari bermalas-malasan bagiku. Aku berbaring di kamar kosku sebelum bersiap-siap ke gereja.
“Hm...pakai baju yang mana ya?”, aku memilih baju yang tergantung dilemari yang tak seberapa jumlahnya. Pilihanku jatuh pada gaun ungu.
Aku bergegas mandi. Setelah mandi, kukenakan baju terbaik untuk menghadap Sang Maha Baik. Aku berdiri didepan cermin yang kuletakkan dipojok kamar. Kuperhatikan badanku yang sudah terbalut gaun selutut. Aku berputar-putar didepan cermin.
“Lenganku...”.
Kupegang lengan kiriku. Kusing-singkan lengan gaunku. Lenganku berotot. Bentuknya juga tak seindah lengan-lengan gadis lajang kebanyakan. Otot dilenganku saksi, betapa kerasnya usahaku untuk hidup. Kusyukuri, meski rasa iri diam-diam menyelinap saat melihat lengan lain yang langsing dan indah terbalut gaun.     


[1] Jarai: keranjang gendong  yang terbuat dari rotan dengan tali dari kulit kapuak, .

Menebus Ambisi

Ditulis: Ambaryani
“Bapak, Ibu kita bisa buktikan pada semua, aku bisa bekerja di kantoran.”
Suara Mira bulat dan berambisi saat dia pulang dan menunjukkan surat kabar lokal yang mencantumkan namanya disalah satu halaman pengumuman penerimaan karyawan disebuah instansi. Mira mengikuti tes di sebuah kantor di kota tempat domisilinya. Dia, terlebih orang tuanya sangat menginginkan hal itu.
Menurut mereka, bekerja di kantoran adalah impian banyak orang. Dan hal itu juga menjadi mimpi Mira dan keluarganya. Berseragam rapi, dengan sepatu mengkilap, dan bekerja di ruang berAC. Terlebih Mira baru saja menyandang gelar sarjana Strata 1. Gengsi jika harus bekerja sembarangan.
Karena ambisi dan ingin menjaga gengsi, Mira dan keluarga berpikir praktis. Apapun, asalkan Mira dapat bekerja kantoran, akan dilakukan. Ayah Mira memutuskan menjual tanah warisan miliknya. Uang hasil penjualannya digunakan sebagai pembuka jalan, agar anaknya dipastikan lulus tes dan bisa langsung bekerja. Tanpa harus menghadapi persaingan dan penyeleksian. Tes yang dilakukan Mira, hanya formalitas saja.
“Tidak sia-sia Bapak menjual tanah warisan dari kakekmu Mir,” kata Ayah Mira dengan senyum mengembang saat melihat nama anaknya tercantum di koran tersebut.
“Iya Pak. Mira juga mau terima kasih ke Bapak, karena Bapak membantu Mira.”
Tara, Ibu Mira tersenyum kecil, karena sejak awal sebenarnya wanita itu tidak menyetujui rencana suami serta anaknya itu. Tapi, keduanya tidak menghiraukan peringatannya. Diapun tak bisa berbuat banyak. Mira memang lebih kompak dengan ayahnya.
“Ibu, lihatlah! Anak Ibu akan segera bekerja di kantoran Bu. Ibu bahagia?,” Mira menghampiri Ibunya yang lebih banyak diam.
“Iya nak, Ibu bahagia,” jawab Tara datar.
Bu Tara melepaskan tangan Mira yang memegang pundaknya dan pergi ke kamar. Dia bingung dengan pikirannya sendiri. Dia khawatir dengan tindakan suami dan anaknya. Tapi semuanya sudah terjadi. Tak lama kemudian Sadat menghampiri istrinya yang termenung di kamarnya.
“Ibu kenapa, tidak senang Mira lulus kerja?.”
“Ibu bukannya tidak senang Pak. Tapi Ibu takut, ini salah. Seharusnya kita tidak melakukan hal ini.”
“Ibu jangan terlalu khawatir. Banyak yang melakukan ini Bu. Bukan hanya kita, dan kalau tidak begini, kapan anak kita akan bisa bekerja di kantoran? Ibu harusnya bersyukur! Bukan malah sebaliknya”.
Lagi-lagi Sadat marah jika Tara mengingatkannya. Menurut Sadat, cara ini sudah lazim dilakukan. Bukan rahasia lagi. Banyak yang mengambil jalan pintas seperti dirinya. Dan hingga kini, yang melakukan hal itu hidup makmur tak ada apaun yang terjadi.
Sadat silau dengan sesuatu yang bersifat sementara. Sehingga dia tak sadar sedang mengali lubang jebakan yang sewaktu-waktu siap membuatnya terjerembab jauh.
Sadat langsung membuatkan syukuran besar-besaran, mengundang seluruh keluarga besarnya, warga setempatpun hampir semua mengetahui kabar gembira keluarga Sadat. Tak jauh berbeda dengan ayahnya, Mira kemudian menyusun mimpi-mimpi setelah dia bekerja nanti. Banyak yang mau Mira kejar.
6 bulan kemudian, belum ada tanda-tanda Mira akan segera bekerja. Malah, banyak kabar beredar jika oknum di instansi tersebut ketahuan ‘main-main’ saat penerimaan tenaga kerja. Dan temuan itu diperkarakan. Semua tenaga kerja yang sudah dinyatakan lulus, tak juga dipekerjakan.
Sejak beredarnya kabar tersebut, Ayah Mira mulai ketakutan. Kian hari, Sadat kian menutup diri dan murung. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar. Makanpun, sudah tidak teratur. Hanya radio satu-satunya hiburan Sadat dalam kemurungannya. Kesehatan Sadat mulai menurun. Tara mulai khawatir melihat kondisi suaminya.
“Pak, kita ke rumah sakit ya? Biar Bapak lekas sembuh,” Tara mendekati suaminya yang terbaring lemah di kamarnya.
“Ndak Bu, Bapak hanya butuh istirahat di rumah”.
Mira yang awalnya hanya menunggu waktu untuk bekerja dikantoran, sudah mulai patah arang. Dia ketar-ketir dengan kabar yang sedang hangat. Tapi, dia bisa lebih tenang menghadapi hal itu dibanding ayahnya.
Diapun tak tinggal diam. Terlebih melihat kenyataan kesehatan ayahnya kian hari kian menurun. Kondisi perekonmian keluarganya juga semakin memburuk. Ayahnya butuh pengobatan. Mira memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan modal ijazah S1nya. Walaupun tak tergolong gampang, Mira juga tak begitu sulit mendapatkan pekerjaan dengan basic pendidikan akuntansinya.
Mira diterima menjadi akuntan di kantor perusahaan Sawit yang terpusat di kotanya. Dia juga menerima pelatihan khusus (privat), instansi yang mengirimkan pegawainya untuk dilatih sistem akuntan.
Penghasilan Mira menjadi penopang ekonomi keluarganya. Apa lagi setelah ayahnya sudah sakit-sakitan. Miralah tulang punggung keluarga itu. Mira sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi pada, terlebih mengenai kasusnya di sebuah instansi yang dulu pernah menjadi tumpuan mimpinya. Saat di rumah, Mira telaten mengurus ayahnya.
“Pak, lekas sembuh ya! Mira sekarang sudah kerja di kantoran Pak. Mira mau Bapak lekas sembuh,” kata Mira sambil mengelus kening ayahnya uang sudah dipenuhi kerutan.
Mata Sadat berkaca-kaca mendengar perkataan Mira. Dia semakin merasa bersalah telah mengajari anaknya dengan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang ayah. Ditatapnya anak semata wayang yang duduk di samping ranjangnya. Dia tak sanggup berbicara. Suaranya tercekat.
Tak ada tanda-tanda Sadat akan segera sembuh. Tara dan Mira tak bisa memaksa laki-laki yang mereka sayangi untuk ke rumah sakit. Mereka mengalah, memboyong dokter ke rumah mereka untuk memeriksa kondisi Sadat.
“Bu, sudahlah! Jangan bawa dokter ke rumah lagi. Kasian Mira”.
“Bapak jangan pikir macam-macam! Yang penting kami semua mau Bapak cepat sembuh”.
“Ibu, tolong pangilkan Mira!” Sadat tak menghiraukan saran istrinya.Tara bergegas mencari Mira anaknya. Dan tak lama kemudian Tara kembali lagi mengandeng anaknya.
“Ada apa Pak? Ini Mira.”
“Mira, kamu sehat nak? Maafkan Bapak karena Bapak sudah membantumu dengan jalan yang tidak benar. Maafkan Bapak juga Bu, karena Bapak tidak menghiraukan nasehat Ibu.”
“Sudahlah Pak, jangan dipikirkan hal itu. Semuanya sudah terjadi, kita akan hadapi sama-sama,” Tara mencoba tegar didepan suaminya yang sudah tak berdaya dan anaknya yang menangis sesegukan sambil mengengam erat tangan ayahnya.
“Terima kasih Bu. Mira...dengarkanlah suara hatimu nak! Jangan kau ulangi lagi hal ini! Jangan kau ikuti kebodohan Bapak.”
“Mira janji, tidak akan mengulanginya lagi Pak. Mira akan buat Bapak dan Ibu bangga dengan cara benar. Bapak harus sembuh.”
Hingga suatu hari Mira mendapat kabar dari pemberitaan media cetak dan elektronik lokal mengenai kasus yang juga menimpanya di instansi yang telah mencadi calon kantornya dulu. Semua yang sudah dinyatakan lulus menjadi pegawai tetap, dibatalkan.
Mira sudah benar-benar siap akan kemungkinan itu. Toh hal itu sudah tersiar cukup lama, dan diapun sudah mendapatkan kerja yang bisa dijadikannya tumpuan hidup. Dia benar-benar bisa memaknai hal tersebut sebagai peringatan, agar dia tak melakukan hal itu kemudian hari.
“Nak, anggap ini alaram agar kau bisa lebih bijak bertindak dikemudian hari. Lakukan sesuatu yang sesuai dengan ketentuan. Berusahalah layaknya usaha orang-orang yang selalu berada di titian yang benar”, Ibu Tara menguatkan Mira.
“Iya Buk, Mira juga mengangap ini sebagai bentuk kasih sayang Tuhan pada Mira dan keluarga kita. Tuhan langsung menegur Mira, saat Mira khilaf dalam bertindak, dan Mira ta larut lebih jauh”, jawab Mira bijaksana.
“Ibu bersyukur semua ini tidak berkelanjutan. Bahkan Mira tau bukan, Ibu tidak setuju dengan yang Mira dan Bapak lakukan?”
“Iya, Mira tau Ibu tidak setuju. Tapi, demi kebaikan Bapak, cukup kita yang tahu Bu. Jangan sampai Bapak mendengar hal ini. Mira khawatir kondisi Bapak akan memburuk”. Keduanya sepakat sebisa mungkin agar Sadat tak mengetahui akan hal itu.       
Saat Sadat sedang di rumah sendiri, Mira sudah pergi kerja sedangkan Tara belum pulang dari belanja. Sadat memutar chun on radionya. Di ingin membunuh rasa jenuh yang menderanya. Di putar-putarnya tombol besar pencari chanel. Hingga dia mendapatkan chanel yang dimaunya. Sadat mendengarkan hiburan itu sambilcberbaring di tempat tidur. Dia hampir terlelap ddengan alunan lagu-lagu di radio. Tiba-tiba sadat kaget dan bangkit dari tempat tidur. Dia membesarkan volume radionya.
WARTA BERITA
Calon Pegawai PT. Sido Mulyo harus menggigit jari. Hal ini terjadi lantaran, tertangkapnya oknum yang menerima uang demi kelulusan calon pegawai, setelah salah satu peserta tes yang menghendus adanya kecurangan di PT tersebut. Akhirnya, seluruh pegawai yang telah dinyatakan lulus, dibatalkan. Dan PT. Sido Mulyo sedang di perkarakan di pengadilan.
Belum juga selesai Warta Berita di radio itu, Sadat sudah terkulai di tempat tidur. Dia kaget bukan kepalang. Sejak hari itu, kondisi kesehatan Sadat semakin memburuk. Dia dihantui rasa takut akan kesalahannya sendiri. Dia menyesali perbuatannya, yang tak menghiraukan kata hatinya.



  

Renginang

Ditulis: Ambaryani
15 hari Simbok menjalankan puasa. Mbok terpikir untuk mulai membuat kue lebaran. Kue yang Mbok buat membutuhkan proses yang agak panjang dan memakan waktu. Itu sebabnya, baru setengah perjalanan puasa, Mbok sudah mulai membuatnya.
Tak hanya itu pertimbangannya. Mbok melihat cuaca yang bagus. Panas, waktu yang sangat tepat untuk membuat renginang. Tentunya renginang Mbok akan cepat kering. Renginang yang mendapatkan pencahayaan yang maksimal saat proses penjemuran, akan menentukan kualitas saat digoreng nanti. Kembang. Jika tidak, renginang tidak kembang saat digoreng dan akan keras jika dimakan.
Ya, Mbok membuat renginang di hari 15 Ramadhan. Tahun-tahun sebelumnya Mbok selalu membuat kerupuk terigu. Tahun ini, Mbok juga terlintas ingin membuat kerupuk. Tapi mbok teringat pesan anaknya, agar tak lagi membuat kerupuk terigu.
Anak Mbok melarang membuat kerupuk terigu, karena tak mau bahan berbahaya datang dari rumah sendiri. Mbok juga semakin yakin dengan apa yang anaknya katakan setelah Mbok nonton berita di televisi. Ternyata salah satu bahan yang dulu selalu Mbok sertakan dalam pembuatan kerupuk adalah bahan berbahaya. Yang bisa mengakibatkan kanker jika dikonsumsi. Mbok kemudian memutuskan tak lagi membuat kerupuk.
Dikukusnya 3 kg beras ketan yang Mbok beli diwarung. Diberi bumbu, kemudian dicetak dan dijemur. 3 kg beras, hanya jadi kurang lebih 1 tampah renginang yang sudah dicetak bulat-bulat sebesar mulut gelas, dengan ketebalan sekitar 1 cm. Tampah, Mbok memang selalu menggunakan alat yang terbuat dari bambu, yang menyerupai nyiru penampi beras, tapi dibuat dalam ukuran besar, untuk menjemur renginang, kerupuk dan sejenisnya.
Mbok hanya bisa membuat 3 kg, karena harga beras ketan dikampungnya sudah mencapai harga Rp. 12.000 per kilo. Mbok terpikir untuk membuat lebih banyak, tapi Mbok harus membagi-bagi uangnya untuk keperluan lain. Pikir Mbok, sedikitpun tak apa. Asal ada.
Lebaran akan bermakna, bukan pada sedikit banyaknya kue yang disajikan. Setelah lebaran, tentu masih perlu belanja agar dapur tetap mengepul. Belum lagi, ada kewajiban-kewajiban lain yang tentunya perlu dipikirkan. Itu sebabnya, lebaran tak harus pol-polan mempersiapkannya.
Lagi, kue yang banyak dihidangkan diatas meja, kadang hanya dipandang-padang. Jika berselera dimakan, jika tidak, jadi bahan tontonan. Cuma satu dua yang dimakan. Tidak sebanding dengan proses penyiapannya. Yang hobi membuat kue, tentu akan menyiapkan kue lebaran sendiri. Membuat kue banyak-banyak, tentu menyita waktu dan tenaga. Padahal, saat lebaran, orang yang berkunjung ke rumah tak seberapa saat menyantapnya.
Hampir tiap rumah ada kue. Dan jenis kuenya juga kurang lebih. Yang berbeda mungkin hanya warna, bentuk. Bahan dasar dan rasanya rata-rata mendekati.
   

Simbok Menunggu Purnama

Ditulis: Ambaryani
Simbok duduk dikursi kayu depan rumahnya. Setelah tarawih, Simbok mencari angin. Pohon-pohon ubi kayu yang ditanamnya didepan rumahnyapun diamatinya. Simbok duduk sendiri. Pandangannya kemudian tertuju ke langit, tertuju pada bulan.
Ini malam kesekian kalinya Simbok duduk-duduk dan mengamati malam. Mengamati langit yang terang. Ini dilakukanya sejak awal Ramadhan. Dari bulan sabit, bulan separuh, hingga sekarang bulan dilihatnya hampir penuh. Simbok sedang menunggu-nunggu bulan penuh, besar dan terang. Tanda bulan purnama.
Simbok bertanya-tanya dalam hati. Dan bulan, akan menjawab pertanyaanya. Menjawab kebingungan Simbok atas perbedaan awal puasa. Simbok hanya mengikuti apa yang ditetapkan pemimpinnya. Karena itu yang selama ini Simbok lakukan, dan itu juga yang Simbok ajarkan pada anak cucunya.
“Kita ikut saja apa yang sudah pemimpin kita tetapkan. Tidak mungkin to, pemimpin yang keputusannya dipakai rakyatnya 1 negara diambil sembarangan”.
Itu jawaban Simbok dari dulu saat atas pertanyaan anak, bahkan kini cucunya. Itu yang selalu Simbok katakan. Tak berubah hingga sekarang. Meskipun perbedaan itu semakin sering terjadi. Saat pertanyaan muncul, ketika terjadinya perbedaan di awal bulan Mulia. Simbok tidak mempersoalkan perbedaan itu. Itu juga yang Simbok terapkan pada anak cucunya.
Anak-anak Simbok sudah besar. Ada yang sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Mau ikut yang mana. Simbok sadar betul, anak-anaknya kini sudah semakin pintar. Terlebih, setelah mengenyam bangku pendidikan. Simbok lebih sering mendengar dari pada bicara. Kini anaknya sudah dewasa.
Tapi, diam-diam Simbok penasaran. Penasaran dengan perbedaan yang sering terjadi. Penasaran mengapa seakan perbedaan itu menimbulkan sedikit rekahan. Simbok mencari sendiri jawaban atas rasa penasarannya. Dengan kemampuan Simbok yang terbatas. Tentulah jawaban itu hanya bisa menjawab pertanyaan dalam diri Simbok atau hanya menjawab rasa penasaran Simbok.
 Saat duduk didepan rumah, sambil menamati bulan Simbok mengerak-gerakkan jari-jarinya. Simbok mulai menghitung. Menghitung sudah berapa hari dia berpuasa. 12 hari. 3 hari lagi tanggal 15. Ini menurut perhitungan awal Ramadhan yang Simbok ikuti.
Simbok menunggu dengan sabar. Menunggu jawaban atas rasa penasarannya. Menunggu datangnya purnama. Purnama akan datang tepat pada waktunya. Simbok akan segera mendapat jawaban atas pertanyaanya.
Simbok kemudian terpikir, purnama akan menjadi bahan evaluasi. Evaluasi untuk meminimalisir rekahan perbedaan. Agar rekahan itu bisa merapat kembali. Bukan sebaliknya. Semakin lama semakin membesar, dan akhirnya menjadi jurang. Semoga saja tidak terjadi. Walaupun merah, kuning, hijau. Tapi tetap erat dalam satu lengkungan, pelangi akan selalu indah dengan berbagai warna.