Rabu, 23 November 2011

Tidakkah Mereka Berpikir?


Oleh: Ambaryani
520.000 hutan habis terbakar
Sumatra, Kalimantan dan Maluku harus merelakan paru-parunya hangus
Satwa liar ikut musnah bersamanya
Sikulus hidrologipun tergangu
Tak hanya itu
Kantong-kantong cukong kian tebal
Dari hasil menebang kayu dengan liar
Tidakkah mereka berpikir?
Tindakannya mengancam terjadinya degradasi sumber daya hutan
Pantai dan sungai kehilangan buffer zonenya
Entah kapan Dipterocarpaceae akan tumbuh subur lagi
Atau mungkin tak akan ada lagi

*Ini renca terbaruku dengan anak-anak MAN 1. Membuat kumpulan puisi pelajaran SMA. Semoga akan terwujud..

Kuingin mereka terus berkarya


Ambaryani
Kubagi karya anak didikku saat aku mengajar di MAN 1 Pontianak. Mereka beragam. Bukan hal mudah membuat mereka akhirnya memiliki karya dan satu buku puisi.  Sebenarnya potensi mereka besar. Hanya motivasi dan kesempatan yang kurang, bahkan bisa dibilang tak ada. Push untuk terus latihan juga tak ada. Mereka belum bisa ‘dilepas’ begitu saja. Pantauan sanggat mereka butuhkan. Kukira, aku sangat cerewet hingga mereka bisa menulis. Dan kurasa, ada yang tak tahan dengan pola didikku, hingga tak semua bisa terus bertahan mengikuti kegiatan KIR. Ada yang mundur teratur, saat aku mendisiplinkan mereka untuk terus latihan menulis.
Aku ingin mereka tahu, mereka menjadi motivasi bagiku. Mereka menjadi cermin bagiku, mereka juga menjadi pembelajaran bagiku. Kuingin melihat mereka terus berkarya. Dengan ataupun tanpa pantauanku.  Bangga ada ditengah mereka.
Kini, kubagikan karya mereka lewat blogku.

Dendam


Oleh: Liyana Lisa, KIR MAN 1 Pontianak

Ucapanmu bagaikan pisau
Pisau tajam yang menggores luka di hati
Hati yang kau sakiti
Telah hancur tak bersisa
Semua yang kau perbuat
Tak kan bisa kau ganti
Tak pernah setitik pun kuberpikir tuk menatap matamu
Percikan api yang tertanam di otakku
Semua kulimpah curahkan hanya untukmu
Bagai kertas yang kubakar
Tersisa menjadi sampah abu
Hatiku yang kacau
Memburamkan semua tentangmu
Semua yang kulalui bersamamu
Kini kutanam dan kupendam bagai barang tak berguna

Sebuah Harapan


Oleh: Haryati Velda, KIR MAN 1 Pontianak

Keringnya hati
Sempitnya fikiran
Merambat jauh ke seluruh tubuh
Menyerang kebahagiaan yang tadinya utuh  
Memecahkan gemuruh ombak semangat
Menghancurkan karang-karang kehidupan
Membunuh para penghuni jiwa
Dan menyisakan kerusakan
Kini
Hanya tersisa sedikit harapan
Sebuah harapan yang tertinggal
Sembunyi dibawah karang kehidupan
Ditempat gelap yang tak terlihat
Sendiri
Sendiri menjelajahi hamparan
Hamparan indah nan bahagia
Yang kini lenyap diterkam kepahitan

Penyesalan


Oleh: Tiara Fadhila, KIR MAN 1 Pontianak

Kini dermagaku mulai kering
Seiring nafsu dunia yang melautkanku
Penyesalan
Imanku kupertanyakan
Terhanyutku dalam nafsu hati
Kupikir ini akhir kelamku
Kini dalam sunyi sedah
Kubersujud di atas sajadah
Menyembah memohon ampunMu wahai Ilahi

Ketika Senja Mulai Tiba


Oleh: Sutini, KIR MAN 1 Pontianak

Merah menawan kau terlukis
Dengan kuas-kuas yang terlatih
Indah bagaikan tiada terkira
Kau mulai terangi langit
Ketika kau hadir menerangi bumi
Tak ada yang memperdulikanmu lagi
Dengan kesibukan mereka sendiri
Kau diabaikan begitu saja
Akan tetapi
Ketika kau mulai beranjak pergi
Semua orang memandangimu
Terpesona akan keindahanmu,
Tapi apalah daya
Dengan begitu cepat kau pergi
Tinggalkan semua yang ada
Kini yang tersisa hanyalah sunyi
Kesunyian yang menghampiri

Pemulung Malam


Oleh: Siti Rohayati, KIR MAN 1 Pontianak

Dipinggir jalan ini
Kuletakkan gerobak usangku
Kupilah harta yang berharga bagiku
Begitu dan begitu usahaku untuk mencari sesuap nasi
Tak mampu aku menahan air mata
Saat  malihat mereka menyuapkan sesuatu dalam mulut dengan lahapnya
Wahai manusia tidakkah kau melihatku?
Yang terpaku dalam perihnya perjalan hidup
Bermimpi tuk bisa menjadi manusia sepertimu
Dan aku terus bergumam dalam mimpi tanpa lelah
Aku harus menunggu malam untuk mencari sesuap nasi
Hidupku selalu berlomba dengan rasa lelah malam ataupun siang
Wahai para dermawan yang berhati emas
Kutunggu uluran tanganmu
Agar aku bissa menata hidup sepertimku